BAB I
PENDAHULUAN
A.
LATAR
BELAKANG
Setiap masyarakat senantiasa mempunyai penghargaan tertentu
terhadap hal-hal tertentu dalam masyarakat yang bersangkutan. Penghargaan yang
tinggi terhadap hal-hal tertentu, akan menempatkan hal tersebut pada kedudukan
yang lebih tinggi dari hal-hal lainnya. Misalnya jika masyarakat menghargai
kekayaan material dari pada
kehormatan maka mereka yang memiliki kekayaan tinggi akan menempati kedudukan
yang tinggi dibandingkan pihak-pihak lainnya. Gejala tersebut akan menimbulkan
lapisan masyarakat yang merupakan pembedaan posisi seseorang atau suatu
kelompok dalam kedudukan berbeda-beda secara vertikal.
Secara teoritis, semua manusia
dapat dianggap sederajat, namun dalam realitanya hal tersebut tidak demikian
adanya. Pembedaan atas lapisan merupakan gejala universal yang merupakan bagian
sistem sosial setiap masyarakat. Sistem lapisan dengan sengaja dibentuk dan
disusun untuk mengejar suatu tujuan bersama. Sehingga suatu organisasi masyarakat
tidak akan pernah lepas dari terbentuknya lapisan sosial dalam masyarakat
tersebut.
Sistem lapisan dalam masyarakat
dalam sosiologi dikenal dengan sebutan stratifikasi sosial (social
stratification). Ini merupakan pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas
secara bertingkat. Kelas sosial tersebut dibagi dalam tiga kelas yaitu kelas
atas (upper class), kelas menengah (middle class) dan kelas
bawah (lower class).
Adanya lapisan masyarakat sangat
berperan penting dalam aktivitas sosial individu atau kelompok dalam suatu
organisasi sosial. Tanpa lapisan sosial dalam masyarakat maka masyarakat itu
akan menarik untuk dilihat, dikenal, dan dipelajari.
Lapisan masyarakat sudah ada
sejak dulu, dimulai sejak manusia itu mengenal adanya kehidupan bersama dalam suatu
organisasi sosial. Lapisan masyarakat mula-mula didasarkan pada perbedaan seks,
perbedaan antara yang pemimpin dan yang dipimpin, golongan budak dan bukan
budak, pembagian kerja bahkan pada pembedaan kekayaan. Semakin maju dan rumit
teknologi suatu masyarakat, maka semakin kompleks sistem lapisan masyarakat.
B.
RUMUSAN
MASALAH
1.
Apa yang di maksud dengan stratifikasi sosial?
2.
Sebutkan bentuk-bentuk stratifikasi sosial !
3.
Jelaskan bagaimana terjadi stratifikasi sosial dalam
masyarakat !
4.
Sebutkan sifat sistem stratifikasi sosial !
5.
Sebutkan unsur-unsur stratifikasi sosial !
6.
Apa yang menjadi dasar dari terbentuknya pelapisan sosial ?
7. Jelaskan
pendekatan apa yang digunakan dalam perspektif tentang stratifikasi sosial !
8. Bagaimana
cara mempelajari stratifikasi sosial ?
9.
Sebutkan fungsi stratifikasi sosial !
10. Sebutkan
teori dalam stratifikasi sosial !
C.
TUJUAN
1.
Dapat memahami pengertian stratifikasi sosial
2.
Dapat mengetahui bentuk-bentuk stratifikasi sosial
3.
Untuk mengetahu bagaimana terjadi stratifikasi sosial dalam
masyarakat
4.
Dapat mengetahui sifat sistem stratifikasi sosial
5.
Mengetahui unsur-unsur stratifikasi sosial
6.
Dapat mengetahui dasar-dasar pelapisan sosial
7.
Mengetahui perspektif tentang
stratifikasi sosial
8.
Untuk mengetahui cara mempelajari
stratifikasi sosial
9.
Dapat memahami fungsi stratifikasi sosial dalam masyarakat
10. Untuk
mengetahui teori stratifikasi sosial.
BAB II
PEMBAHASAN
1.
Pengertian
Stratifikasi Sosial
Stratifikasi
sosial dapat di definisikan sebagai perbedaan masyarakat berdasarkan setatus
yang dimilikinya.
Pitirim A. Sorokin
(dalam Baharuddin) mengatakan bahwa stratifikasi sosial adalah pengelompokan
atau perbedaan penduduk atau masyarakat ke dalam kelas-kelas yang bertingkat,
kelas tinggi, menengah, dan rendah. Pemilikan terhadap sesuatu yang berharga
merupakan bibit yang menimbulkan adanya sistem pelapisan dalam masyarakat.[1]
Menurut R.
K. Kelsal dan H. M. Kelsal ( dalam Abdullah idi) bahwa pada suatu masyarakat
merupakan suatu hal yang ditandai adanya ketidak samaan struktur (structured inequality) yang tampak pada
sejumlah pengaturan institusi social pada suatu masyarakat. Stratifikasi social
atau pelapisan social pada dasarnya berbicara tentang penguasaan sumber-sumber
social. Sumber social segala sesuatu yang oleh masyarakat dipandang sebagai
suatu yang berharga. tetapi terbatas dalam jumlah sehingga memperolehnya
diperlukan usah-usaha tertentu. Terjadinya stratifikasi social dikarenakan
tidak adanya keseimbangan antara hak dan kewajiban sehingga rasa tanggung jawab
social berkurang lalu dilanjutkan adanya ketimpangan pe milikan nilai atau
harga. Akibatnya, sesama anggota kelompok sosial menilai dan memilih-milih yang
akhirnya tersirat dan dan diakui adnya perbedaan, pada akhirnya munculah
strata. Bentuk pelapisan dalam masyarakat berbeda banyak sekali, tetapi
pelapisan itu tetap ada.
Sedangkan menurut Syahrial Syarbani dan dkk (dalam Abdullah idi)
stratifikasi sosial adalah sebuah konsep yang menunjukan adanya perbedaan dan/atau
pengelompokan suatu kelompok sosial (komunitas) secara bertingkat. Minsalnya,
dalam komunitas tersebut terdapat strata tinggi, strata sedang, dan strata
rendah.[2]
2.
Bentuk-Bentuk
Stratifikasi Sosial
Menurut Ralph
Lipton (dalam Baharuddin) Pertama,
stratifikasi berdasarkan usia, stratifikasi sosial sangat menentukan hak dan
wewenang dari mereka yang menjadi anak sulung dan yang bukan dalam sistem
kerajaan inggris minsalnya, anak sulung memiki hak untuk menjadi putra mahkota
menggantikan kedudukan raja dikemudian hari.
Kedua, stratifikasi
sosial berdasarkan jenis kelamin. stratifikasi ini menentukan hak dan wewenang
antara anak laki-laki dan perempuan. dalam masyarakat yang menganut sistem patriarkat, anak laki-laki mempunyai
wewenang yang lebih besar untuk mewariskan kekayaan ornag tua sebaliknya, dalam
masyarakat sistem matrilenial, wanita
memiliki hak yang lebih luas dibandingkan anak laki-laki.
Ketiga, stratifikasi
sosial berdasarkan hubungan kekerabatan. stratifikasi ini menentukan hak dan
wewenang dari seseorang ayah, ibu, paman, dan anak serta keponakan dalam
kehidupan keluarga.
Keempat, stratifikasi
berdasarkan keanggotaan dalam masyarakat. stratifikasi yang berhubungan dengan etnis, agama, dan golongan dalam
masyarakat. stratifikasi ini bersifat horizontal
Kelima, stratifikasi
berdasarkan pendidikan. stratifkiasi berdasarkan tingkat pendidikan yang
dimiliki seseorang. semakin tinggi tingkat pendidikan yang dimilikinya, semakin
tinggi tingkat sosial seseorang.
Keenam
stratifikasi berdasarkan pekerjaan. stratifikasi ini tergantung jabatan
seseorang dalam pekerjaan, ada yang berkedudukan sebagai menejer dan ada yang
berkedudukan sebagai pekerja biasa.
Ketujuh, stratifikasi
berdasarkan tingkat perekonomian yang dimiliki seseorang. ada yang berkedudukan
sebagai kelas atas, menengah dan ada kelas bawah.[3]
Strata sosial rendeah meliputi
keluarga ekonomi lemah buruh tani, pedagang kecil, karyawan harian,
berpendidikan formal rendah, tempat tinggal sederhana dan kurang baik, perhatia
pada pemenuhan kebutuhan hari ini, jangkauwan hari esok terbatas, anak
diarahkan segera lepas dari tanggung jawab, produktivitas rendah, taat, tahan
penderitaan, memasukkan ke sekolah yang kurang bermutu.
Strata
sosial menengah bercirikan: penghasilan melebihi penghasilan hidup, biasa
menabung, terpelajar, pendidikan sebagi alat kemajuan, mengandrungi masa depan
lebih baik, menyekolahkan anak dalam waktu yang panjang dan sekolah bermutu
tinggi.
Strata
sosial tinggi, yakni keluarga lapisan atas dengan ciri-ciri: kehidupan ekonomi
sangat baik, kaya raya, berwibawa, tidk khawatir ke hidupan ekonomi di kemudian
hari, mempertahankan setatus, pendidikan formal tidak di pandang sebagai alat
mencapai kemajuan. perbedan atau pengelompokan ini didasarkan pada adanya suatu
simbol-simbol tertentu yang dianggap berharga dan bernilai, baik berharga atau
bernilai sosial, ekonomi, politik,
hukum, budaya, maupun dimensi lainya dalam dalam suatu klompok sosial
(komunitas).[4]
3.
Terjadi
Stratifikasi Sosial Dalam Masyarakat
Menurut Narwoko Dan Suyanto (dalam Baharuddin) terjadi
pelapisan sosial dalam masyarakat dapat di bedakan menjadi dua macam, yaitu
sistem pelapisan yang terjadi dengan sendirinya. artinya tanpa disengaja, dan
sistem pelapisan yang terjadi dengan disusun untuk mencapai suatu tujuan
tertentu.
Stratifikasi
sosial yang terjadi dengan sendirinya atau tidak sengaja minsalnya, lapisan
yang didasarkan pada umur, jenis kelamin, kepandaian, sifat keaslian
keanggotaan kerabat kepala masyarakat, mungkindalam batas-batas tertentu
berdasarkan harta.
Sedangkan
lapisan sosial yang terjadi dalam masyarakat yang sengaja disusun untuk
mencapai tujuan tertentu biasanya berkaitan dengan pembagian kekuasaan dan
wewenang yang resmi dalam organisasi formal seperti pemerintah perusahaan,
partai politik, angkatan bersenjata, dan lain sebagainya.
Alasan-alasan
terjadinya lapisan-lapisan dengan sendirinya antara lain adalah tingkat umum (
senior), kepandaian, sifat keaslian keanggotaan kerabat seorang kepala
masyarakat, juga mungkin kekayaan,. minsalnya, pada masyarakat yang hidup
berburu, alasan utama yang dipakai dalam pelapisan masyarakat adalah kepandaian
berburu. sedangkan pelapisan sosial yang sengaja disusun untuk mengejar tujuan
bersama biasanya berkaitan dengan pembagian kekeuasaan dan wewenang yang resmi
dalam organisasi formal, seperti pemerintah atau perusahaan.[5]
4.
Sifat
Sistem Stratifikasi Sosial
Dilihat
dari sifatnya, ada dua sifat dari sistem pelapisan sosial dalam masyarakat,
yaitu: bersifat tertutup ( closed social
stratificationi), dan bersifat terbuka (open
social stratificatio),
Pelapisan sosial tertutup bercirikan
sulitnya seseorang untuk berpindah dari dari satu lapisan ke lapisan lain.
Contohnya sistem stratifikasi sosial tertutup adalah kasta pada masyarakat
India.
Sedangkan
stratifikasi sosial terbuka, setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan
untuk berpindah ke lapisan yang lain (lebih tinggi). Hal ini dapat dilakukan
dengan usaha berdasarkan kecakapannya sendiri[6]
Sistem
lapisan yang bersifat tertutup membatasi kemungkinan berpindahnya seseorang
dari satu lapisan ke lapisan yang lain, baik yang merupakan gerak ke atas atau ke
bawah. Di dalam sistem yang demikian, satu-satunya jalan menjadi anggota suatu
lapisan dalam masyarakat adalah kelahiran. Sebaliknya di dalam sistem terbuk,
setiap anggota masyarakat mempunyai kesempatan untuk berusaha dengan kecakapan
sendiri untuk naik lapisan. Atau, bagi mereka yang tidak beruntung jatuh dari
lapisan yang atas ke lapisan yang di bawahnya. Pada umumnya sistem terbuka ini
memberi peransang yang lebih besar kepada seiap anggota masyarakat untuk
dijadikan landasan pembangunan masyarakat daripada sistem tertutup.[7]
5.
Unsur-
unsur stratifikasi social
Unsur-unsur stratifikasi sosia
sebagai berikut:
a.
Kedudukan
(status)
Kadang-kadang
dibedakan antara pengertian kedudukan (status)
dengan kedudukan sosial ( social status).
Kedudukan diartikan sebagai tempat atau posisi sesorang dalam suatu kelompok
sosial. Kedudukan sosial artinya adalah tempat seseorang secara umum dalam
masyarakatnya sehubungan dengan orang lain, dalam arti lingkungan pergaulannya,
prestisenya,dan hak-hak serta kewajiban- kewajibannya. Untuk lebih mudah
mendapatkan pengertiannya, kedua istilah tersebut di atas akan dipergunakan
dalam arti yang sama dan digamabarkan dengan istilah “kedudukan” (status) saja.
Secara
abstrak, kedudukan berarti tempat seseorang dalam suatu pola tertentu. Dengan
demikian, seseorang dikatakan mempunyai beberapa kedudukan karena seseorang
biasanya ikut serta dalam dalam berbagai pola kehidupam pngertian tersebut
menunjukkan tempatnya sehubungan dengan kerangka masyarakat secara menyeluruh.
Kedudukan tuan A sebagai warga masyarakat merupakan kombinasi dari segenap
kedudukannya sebagai guru, kepala sekolah, ketua rukun tetangga, suami nyonya
B, ayah anak-anak, dan seterusnya.
Masyarakat
pada umumnya mengembangkan dua macam kedudukan, yaitu sebagai berikut
Ascribed status, yaitu kedudukan seseorang
dalam masyarakat memerhatikan perbedaan-perbedaan rohaniah dan kemampuan. Kedudukan
tersebut diperoleh karena kelahiran, minsalnya kedudukan seorang bangsawan
adalah bangsawan pula. Seseorang warga kasta Brahmana di India memperoleh
kedudukan demikian karena orang tuanya tergolong dalam daam kasta yang
bersangkutan.
Achieved status adalah
kedudukan yang dicapai seseorang dengan usaha- usaha yang disengaja. Kedudukan
ini tidak diperoleh atas dasar kelahiran. Akan tetapi, bersifat terbuka bagi
siapa saja, tergantung dari kemampuan masing-masing dalam mengajar serta
mencapai tujuan-tujuannya.
Kadang-kadang
dibedakan lagi satu macam kedudukan, yaitu assigned
satatus, yang merupakan kedudukan yang diberikan. Assigned-status sering mempunyai hubungan yang erat dengan achieved-satatus. Artinya suatu kelompok
atau golongan memberikan keduudkan yang lebih tingi kepada seseorang yang
berjasa, yang telah memperjuangkan sesuatu untuk memenuhi kebutuhan dan
kepentingan masyarakat. Akan tetapi. Kadang-kadang kedudukan tersebut diberikan
karena seseorang telah lama menduduki suatu kepangkatan tertentu, minsalnya
seorang pegawai negeri naik pangkat secara reguler, setelah menduduki
kepangkatan yang lama, selama jangka waktu yanng tertentu.
b.
Peranan (role)
Peranan (role) merupakan aspek dinamis kedudukan
(status). Apabila seseorang
melaksanakan hak dan kewajibannya sesuai dengan kedudukannya, dia menjalankan
suatu peranan. Pembedaan antara kedudukan dengan peranan adalah untuk
kepentingan ilmu pengetahuan. Keduanya tak dapat dipisah-pisahkan karena yang
satu tergantung pada yang lain dan sebaliknya. Tak ada peranan tanpa kedudukan
atau kedudukan tanpa peranan.
Peranan
yang melekat pada diri seseorang harus dibedakan dengan posisi dalam pergaulan
masyarakat. Posisi seseorang dalam masyarakat (yaitu social-position) merupakan unsur statis yang menunjukan
tempat individu pada organisasi masyarakat. Peranan lebih menunjukan pada
fungsi, penyusuaian diri, dan sebagai suatu peroses. Jadi, seseorang menduduki
suatu posisi dalam masyarakat serta menjalankan suatu peran. Peranan mencakup
tiga hal, yaitu sebagai berikut.
Peranan
meliputi norma-norma yang dihubugkan dengan posisi atau tempat seseorang dalam
masyarakat. Peranan dalam arti ini merupakan ragkaian peraturan-peraturan yang
membimbung seseorang dalam kehidupan kemasyarakatan
Peranan
merupakan suatu konsep tentang apa yang dapat dilakukan oleh individu dalam
masyarakat sebagai organisasi.
Peranan
juga dapat dikatakan sebagai prilaku individu yang penting bagi struktur sosial
masyarakat.[8]
6.
Dasar-Dasar
Pelapisan Sosial
Stratifikasi
sosial didasarkan pada kriteria yang umum dipakai untuk menggolongkan anggota
masyarakat kedalam lapisan-lapisan dalam masyarakat antara lain, seperti :
a. Faktor
ekonomi
Faktor ekonomi dalam pelapisan sosial
merupakan faktor utama yang paling banyak menentukan dalam proses pelapisan
masyarakat. Pelapisan sosial berdasarkan ekonomi berarti kita membedakan orang
menurut kesempatan yang dimilikinya dalam bidang ekonomi. Kesempatan –
kesempatan itu antara lain dapat dilihat dari pendapatan yang diperoleh
setahun, kekayaan yang dimiliinya sekarang yang dapat dipergunakan sewaktu-waktu
untuk meningkatkan kehidupan ekonominya.
b. Faktor
seks ( jenis kelamin)
Jenis kelamin merupakan kategori sosial
yang diperoleh manusia sejak lahir, artinya tidak diperoleh atas dasar usaha
yang disengaja. Dari tinjauan sosiologis, pembicaraan faktor jenis kelamin
dalam pelapisan sosial tidak bermaksud untuk menguraikan factor-faktor biologis
yang membedakan pria dan wanita, tetapi pembicaraan lebih ditunjukkan pada
hubungan antara faktor jenis kelamin dengan ketiga dimensi sosial.
Ada kecendrungan bahwa pria memiliki kesempatan
yang lebih banyak dibandingkan dengan wanita dengan kata lain, kedudukan wanita
dipandang lebih rendah oleh beberapa masyarakat dibanding pria. Pemikiran-pemikiran
yang membedakan kedudukan dan peran berdasrkan jenis kelamin atau disebut
gender. Masyarakat perdesaan membatasi kiprah anak putrinya dalam hubungan
sosial. Budaya pingit masyarakat jawa sangat menunjukkan pola stratifikasi
sosial berdasrkan jenis kelamin yang begitu jelas. Karena itu timbul usaha-usaha
emensipasi seperti yang dimotori oleh kartini dan dewi sartika.
c. Faktor
usia
Meskipun faktor usia tidak selalu
mempunyai hubungan dengan ketiga dimensi pelapisan sosial, namun ada baiknya
disini dikemukakan juga pertimbangan ini didasarkan atas kenyataan bahwa
beberapa masyarakat perdesaan di indonesia mempunyai kecendrungan menganggap
makin tua sesseorang makin tinggi statusnya. Sebetulnya hubungan positif antara
usia dengan ketiga dimensi status yang kita bicarakan adalah pandangan bahwa
makin tua seseorang makin bijaksana dia.
Proses menghargai orang tua dalam budaya
indonesia melahirkan budaya paternalistic. Sifat paternalistic ditunjukkan
dengan dihormatinya orang tua tidak hanya dalam kehidupan keluarga tetapi juga
dalam bidang pemerintahan, hukum dan politik.
d. Faktor
pendidikan
Keberadaan kaum terdidik atau kaum
cendikia dikalangan ma.yarakat memperoleh tempat tersendiri dalam lapisan
sosial masyarakat desa. Beberapa waktu lalu, orang yang mempunyai gelar
pendidikan tertentu dianggap mengetahui segala hal yang tidak diketahui
penduduk desa, kepada orang-orang terdidik itu mereka bertanya.
Orang-orang terdidik umumnya mempunyai
hubungan sosial yang lebih luas, informasi yang lebih banyak, sehingga mudah
menerima inovasi baru.. karena itu, para terdidik ini mudah menyesuaikan diri
dengan perubahan – perubahan sosial yang dialaminya. Aspek – aspek ini diberi
nilai yang lebih oleh orang lain dan mendudukkan para terdidik itu ke kedudukan
yang lebih tinggi.
e. Kekuasan
Orang yang mempunyai kekuasaan atau
wewenang yang besar akan masuk pada lapisan atas dan yang tidak mempunyai
kekuasaan akan masuk lapisan bawah.
f. Kehormatan
Orang yang paling disegani dan dihormati
akan dimasukkan kedalam lapisan atas. Dasar semacam ini biasanya dijumpai pada
masyarakat tradisional.
7.
Perspektif
Tentang Stratifikasi Sosial
Stratifikasi sosial atau pembedaan
anggota masyarakat ke dalam berbagai kelas sosial ini sebenarnya diperlukan
atau tidak ? jawaban terhadap pertanyaan ini bersifat relatif, tergantung dari
mana sudut pandang kita melihatnya dan pendekatan macam apa yang akan kita
pergunakan.
a.
Pendekatan Asumsi Dasar
Para penganut pendekatan
fungsional biasanya akan menjawab bahwa pelapisan sosial adalah sesuatu yang
inhern dan diperlukan demi kelangsungan sistem. Sedangkan penganut pendekatan
konflik akan menjawab sebaliknya dan menyatakan bahwa timbulnya pelapis sosial
sesungguhnya hanyalah ulah kelompok-kelompok elit masyarakat yang berkuasa
untuk mempertahankan dominasinya. Jawaban kedua pendekatan ini wajar bertolak
belakang karena keduanya memiliki asumsi dan pandangan yang memang berbeda.
Pendekatan fungsional dan konflik
bertumpu pada dua tradisi yang didasari perbedaan asumsi tentang hakikat
manusia dan masyarakat. Fungsionalis bertumpu kepada tradisi konservatif yang
melihat stratifikasi sosial penting untuk memenuhi “kebutuhan sosial”
masyarakat secara keseluruhan. Pandangan fungsional ini yakin bahwa tanpa adanya
pelapisan sosial, masyarakat jutru akan kacau karena akan ada peran-peran
sosial tertentu yang mengalami kekosongan pelaksanaan dan pemeran. Sementara
dipihak lain, pendekatan konflik mempertanyakan eksistensi dan makna dari
pengertian “kebutuhan sosial”. Penganut pendekatan ini umumnya curiga bahwa
dibalik alasan pelapisan sosial itu dibutuhkan bagi kalangan sistem sosial
sebenarnya barang dan jasa yang bernilai dan langka.
b.
Pendekatan Fungsional
Menurut
Kingsley Davis dan Wilbert Moore (dalam Baharuddin), stratifikasi sosial
dibutuhkan demi kelangsungan hidup masyarakat yang membutuhkan berbagai macam jenis kebutuhan. Tanpa adanya
stratifikasi sosial, masyarakat tidak akan terangsang untuk menekuni
pekerjaan-pekerjaan sulit atau pekerjaan-pekerjaan yang membutuhkan proses
belajar yang lama dan mahal. Stratifikasi sosial dibutuhkan juga kerena
kebutuhan masyarakat untuk menempatkan orang-orang ke dalam posisi-posisi yang
membutuhkan struktur sosial, dan kemudian mendorong mereka agar menjalankan tugas-tugas
yang berhubungan dengan posisi tersebut.
8.
Cara
Mempelajari Stratifikasi Sosial
Menurut Zanden (dalam Baharuddin), di
dalam sosiologi dikenal tiga pendekatan dalam mempelajari stratifikasi sosial,
yaitu :
a. Pendekatan
Objektif
Pendekatan
objektif artinya, usaha untuk memilah-milah masyarakat kedalam beberapa lapisan
dilakukan menurut ukuran-ukuran yang obyektif berupa variable yang mudah diukur
secara kuantitatif. Beberapa pakar demokratif, misalnya sering membagi
masyarakat menurut ketegori umum, atau perbedaan beda penghasilan. Pihak yang
dikategorikan menurut pendekatan obyektif mungkin saja mereka tidak menyadari
atau menolak termasuk ke dalama kategori yang dibuat secara obyektif oleh pakat
tersebut. Contohnya ketika pemerintah mengumumkan jumlah orang miskin di
Indonesia tahun 1990 hanya tinggal sekitar 27 juta jiwa, banyak anggota
masyarakat menolak atau tidak sadar bahwa mereka termasuk orang miskin.
c. Pendekatan
Subjektif
Pendekatan
subjektif artinya, munculnya pelapisan sosial dalam masyarakat tidak diukur
dengan kriteria-kriteria yang obyektif, melainkan dipilih menurut kesadaran
subyektif warga masyarakat itu sendiri. Berbeda dengan pendekatan obyektif di
mana peneliti bisa menyusun kategori statistik, untuk pendekatan subjektif yang
tersusun adalah kategori sosial yang ditandai oleh kesadaran jenis. Seseorang
menurut kriteria obyektif termasuk miskin, menurut pendekatan subyektif ini
bisa saja dianggap tidak miskin kalau ia sendiri memang merasa bukan termasuk
kelompok masyarakat miskin.
d. Pendekatan
Reputasional
Pendekatan
Reputasional artinya, pelapisan sosial disusun dengan cara subyek penelitian
diminta menilai status orang lain dengan jalan menempatkan orang lain tersebut
ke dalam suatu skala tertentu. Untuk mencapai siapakah di desa tertentu yang
termasuk kelas atas, peneliti yang menggunakan pendekatan reputasional bisa
melakukannya dengan cara menanyakan kepada warga desa tersebut siapakan warga
desa setempat yang paling kaya atau menanyakan siapakah warga desa setempat
yang paling mungkin diminta pertolongan meminjamkan uang dan sebagainya.
9.
Fungsi
Stratifikasi Sosial
Pada
umumnya orang beranggapan bahwa stratifikasi sosial menghambat kemajuan
masyarakat/individu. Sebenarnya stratifikasi sosial mempunyai beberapa fungsi
atau kegunaan. Menurut Astrid (dalam Baharuddin). Kingsley (1967) dan Wilbert
Moore menjelaskan, bahwa fungsi-fungsi stratifikasi sosial adalah:
a. Stratifikasi
sosial menjelaskan kepada seseorang “tempat”nya dalam masyarakat sesuai dengan
pekerjaan, menjelaskan kepadanya bagaimana ia harus menjalankannya dan
sehubungan dengan tugasnya menjelaskan apa dan bagaimana efek serta
sumbangannya kepada masyarakat.
b. Karena
peranan dari setiap tugas dalam setiap masyarakat berbeda-beda dengan
seringkali adanya tugas yang kurang dianggap penting oleh masyarakat (karena
beberapa pekerjaan meminta pendidikan dan keahlian terlebih dahulu) maka
berdasarkan perbedaan persyaratan dan tuntutan atas prestasi kerja. Minsalnya
memberi imbalan kepada yang melaksanakan tugas dengan baik dan sebaliknya
“menghukum” yang tidak atau kurang baik. Dengan sendirinya terjadilah
distribusi penghargaan, hal mana menghasilkan dengan sendirinya pembentukan
stratifikasi sosial.
c. Penghargaan
yang diberikan biasanya bersifat ekonomik, berupa pemberian status sosial atau
fasilitas-fasilitas yang karena distribusinya berbeda (sesuai dengan pemenuhan
persyaratan dan penilaian terhadap pelaksanaan tugas) membentuk struktur
sosial.
Dengan
sendirinya masyarakat akan terbentuk lapisan-lapisan yang didasarkan pemenuhan persyaratan
tugas tadi. Akhirnya berdasarkan penilaian atas pemenuhan persyarata dan
pelaksanaan tugasnya dalam masyarakat, akan terbentuk suatu pelembagaan yang
dalam tingkat teratasnya `menguasai masyarakat dan menentukan distribusi dari
penghargaan ini lebih lanjut. Lapisan-lapisan sosiologik dalam masyarakat ini
akhirnya akan merupakan unsur penertiban danpengaturan pelaksanaan tugas
masing-masing anggota dalam masyarakat dengan demikian melalui stratifikasi
sosial terbentuklah stratifikasi politik.
Meskipun
demikian, dalam masyarakat yang mengalami perubahan sosial yang dahsyat, tidak
selalu stratifikasi sosial berimpitan dengan stratifikasi politik, hal mana
justru memberi sifat dinamika terhadap masyarakatnya dan merupakan masyarakat
demokratis. Disamping unsur pembagian pekerjaan sebagai faktor penentu dalam
pembentukan stratifikasi sosial, dikenal juga unsur biologik dan ras sebagai
faktor pembentuknya. Suatu bangsa yang menjajah biasanya menempatkan diri pada
lapisan masyarakat teratas, membatasi pekerjaan-pekerjaan tertentu untuk orang
-orang dari ras tersebut.
Disamping
unsur-unsur obyektif, terdapad pula unsur subyektif, yaitu kesadaran manusia
akan lapisan golongan masyarakatnya. Kesadaran ini dapat tetapi dapat juga tidak-menyebabkan suatu
perasaan senang dan puas diri. Menurut Richart Centers (dalam Baharuddin) unsur
kesadaran akan lapisan sosial timbul karena : “comes from the individual’s feelings of identification with other who
have imiliar backgrounds”.
Menurut W.
Lioyd Warner (dalam Baharuddin) Beberapa indikator tentang penilaian subyektif
seseorang menempati lapisan masyarakat ialah :
a. Bentuk
rumah, kondisi perawatan rumah, tata kebun.
b. Wilayah
tempat tinggal atau lingkungan karena dianggap bahwa wilayah tempat tinggal menentukan
status.
c. Pekerjaan
atau profesi dipilih seseorang menunjukkan keinginan ( identitas diri) dengan
lapiosan masyarakat tertentu.
d. sumber
pendapatan menentukan status sosial seseorang.
Sehubung dengan ini
perlu dijelaskan bahwa bukan jumlah uang yang diterima yang menentukan
melainkan status yang dinikmati melalui sumber itu.[9]
10.
Teori
Stratifikasi Sosial
a.
Teori
fungsionalis
Sanderson (Mahmud dan Ija Suntana) para
penganut teori fungsionalis membahas prihal kedudukan dan peranan dalam kajian stratifikasi
sosial. Teori fungsionalis diajukan oleh Kingsley Davis dan Wilbert Moore.
Sunarto (dalam Mahmud dan Ija Suntana) penjelasan
Davis dan Moore dikenal sebagai penjelasan fungsionalis karena menekankan
fungsi setatus dalam masyarakat yang dinilai menunjang kesinambungan masyarakat.
Menurut teori ini,
stratifikasi timbul dari kebutuhan fungsional dasar untuk terciptanya tatanan
kehidupan sosial, sehingga stratifikasi sangat penting dan mutlak dalam
kehidupan masyarakat.
Davis
dan moore berpendapat bahwa untuk hidup dan berfungsi secara efektif, semua
masyarakat menghadapi masalah dasar dalam mendorong anggota masyarakat untuk
menepati posisi sosial yang penting. Keduanya percaya bahwa sebuah sistem
stratifikasi merupakan mekanisme untuk menyelesaikan maslah yang dihadapi.
Dengan demikian, stratifikasi sosial merupakan sistem insentif, sebagai alat
untuk memotivasi orang agar mengemban tanggung jawab sosial. Bagi mereka yang
berbakat dan bersediabekerja keras, berkorban, dengan tujuan mencapai jabatan
penting, imbalan yang tinggi akan diperolehnya. Sebaliknya, bagi mereka yang
tidak memiliki motivasi dan tidak terampil akan mempunyai peranan yang kicil
dengan imbalan yang kecil pula.
b.
Terori
kelompok setatus
Sanderson (dalam Mahmud dan Ija Suntana) teori
kelompok setatus digagas oleh Max Weber. Weber percaya bahwa ada dua tipe
kelompok stratifikasi sosial yang berperan penting dalam setiap sistem
stratifikasi masyarakat, yaitu kelompok setatus dan partai. Kelompok status
didefiniikan oleh Weber sebagai kelompok yang anggotanya mempunyai gaya hidup
tertentu dan mempunyai tingkat penghargaan dan kehormatan sosial tertentu.
Sebuah partai adalah sebuah asosiasi politik dan anggotanya melakukan dan
mempunyai kekuatan sosial tertentu. Weber mengidentifikasi tiga asfek
stratifikasi, yaitu kekayaan, kehormatan dan gaya hidup. Weber melihat bahwa
pemilihan modal, kehormatan, dan kekuasaan dapat berdisi sendiri satu sama
lain. Oleh karena itu, suatu kelompok yang mempunyai pemilikian modal belum tentu
memiliki kedudukan yang tinggi dalam rangka setatus dan kekuasaan, seperti juga
sebuah kelompok yang mempunyai setatus tinggi belum tentu memiki modal yang
besar pula.[10]
c.
Teori para
sosiologi muslim
Baalbaki
(dalam Mahmud dan
Ija Suntana) dalam sosiologi islam, kedudukan dan peranan dikaji secara
satu paket oleh para sosiolog muslim dengan kajian stratifikasi sosial. Gagasan
mengenai stratfikasi sosial dalam ilmu sosial islam berbeda dengan gagasan
mengenai stratifikasi sosial dalam ilmu sosial barat modern. Istilah Al-Quran,
sebagai sumber teori stratifikasi sosial islam, yang berkenaan dengan makna
stratifikasi sosial adalah darajah dan
tabaqah. Istilah tersebut digunakan
untuk menunjukan golongan masyarakat. Dalam kesusastraan Arab klasik, kata ini
tidak mengandung arti suatu kelompok berpenghasilan khusus, dan digunakan untuk
menyebut suatu masyarakat yang beragam keriteria pemikirannya.
Sementara itu, gagasan tentang
perbedaan stratifikasi sosial tersiratkan dari Al-Quran, Surat Az-Zukhruf ayat
32
Artinya: “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat
Tuhanmu? Kami telah menentukan antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan
dunia, dan kami telah meninggikan sebahagian mereka atas sebagian yang lain
beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat mempergunakan sebagian yang lain.
Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan. (Az-Zuhruf [43]: 32).”
Para
sosiologi Muslim seperti Syariati (dalam Mahmud
dan Ija Suntana), menyebutkan bahwa Al-Quran mengakui kemajmukan kelompok
sosial dalam masyarakat. Artinya Al-Quraan mengakui ada kelompok-kelompok
istimewa yang memiliki prestise sosial lebih dibandingkan kelompok sosial
lainnya. Bahkan, ajaran zakat pun merupakan bentuk pengakuan dari Al-Quraan
terhadap kemajemukan kelompok sosial tersebut. Kemajemukan sosial itu
ditujukkan untuk pembagian fungsi-fungsi sosial, sebagaimana diisyaratkan oleh
potongan ayat di atas yang menyaratkan: agar
sebagaian mereka dapat memanfaatkan sebagaian yang lain.[11]
BAB III
PENUTUP
A.
KESIMPULAN
Stratifikasi sosial dapat di
definisikan sebagai perbedaan masyarakat berdasarkan setatus yang dimilikinya.
Bentuk stratifikasi sosial Menurut
Ralph Lipton (dalam Baharuddin)sebagai berikut: stratifikasi berdasarkan usia,
stratifikasi sosial berdasarkan jenis kelamin, stratifikasi sosial berdasarkan
hubungan kekerabatan, stratifikasi berdasarkan keanggotaan dalam masyarakat,
stratifikasi berdasarkan pendidikan, stratifikasi berdasarkan pekerjaan,
stratifikasi berdasarkan tingkat perekonomian.
Stratifikasi sosial dalam masyarakat
Menurut Narwoko dan Suyanto (dalam Baharuddin) terjadi pelapisan sosial dalam
masyarakat dapat di bedakan menjadi dua macam, yaitu sistem pelapisan yang terjadi
dengan sendirinya. artinya tanpa disengaja, dan sistem pelapisan yang terjadi
dengan disusun untuk mencapai suatu tujuan tertentu.
Sifat sistem stratifikasi sosial
dilihat dari sifatnya, ada dua sifat dari sistem pelapisan sosial dalam
masyarakat, yaitu: bersifat tertutup ( closed
social stratificationi), dan bersifat terbuka (open social stratificatio),
Unsur-unsur stratifikasi sosial
yaitu kedudukan (status) dan peranan
(role).
Dasar-dasar pelapisan
sosial, Stratifikasi sosial didasarkan pada kriteria yang umum dipakai untuk
menggolongkan anggota masyarakat kedalam lapisan-lapisan dalam masyarakat
antara lain, seperti: Faktor ekonomi, faktor seks ( jenis kelamin), faktor
usia, faktor pendidikan, kekuasan, kehormatan.
Perspektif
Tentang Stratifikasi Sosial, Stratifikasi sosial atau pembedaan anggota
masyarakat ke dalam berbagai kelas sosial ini sebenarnya diperlukan atau tidak?
jawaban terhadap pertanyaan ini bersifat relatif, tergantung dari mana sudut
pandang kita melihatnya dan pendekatan macam apa yang akan kita pergunakan,
pendekatan asumsi dasar atau pendekatan fungsional.
Cara
Mempelajari Stratifikasi Sosial Menurut Zanden (dalam Baharuddin), di dalam
sosiologi dikenal tiga pendekatan dalam mempelajari stratifikasi sosial, yaitu:
Pendekatan objektif, pendekatan subjektif, pendekatan reputasional.
Fungsi
Stratifikasi Sosial, pada umumnya orang beranggapan bahwa stratifikasi sosial
menghambat kemajuan masyarakat/individu. Sebenarnya stratifikasi sosial
mempunyai beberapa fungsi atau kegunaan. Menurut Astrid (dalam Baharuddin).
Kingsley (1967) dan Wilbert Moore menjelaskan, bahwa fungsi-fungsi stratifikasi
sosial adalah:
Stratifikasi
sosial menjelaskan kepada seseorang “tempat”nya dalam masyarakat sesuai dengan
pekerjaan, menjelaskan kepadanya bagaimana ia harus menjalankannya dan
sehubungan dengan tugasnya menjelaskan apa dan bagaimana efek serta
sumbangannya kepada masyarakat.
Karena peranan dari setiap
tugas dalam setiap masyarakat berbeda-beda dengan seringkali adanya tugas yang
kurang dianggap penting oleh masyarakat (karena beberapa pekerjaan meminta
pendidikan dan keahlian terlebih dahulu) maka berdasarkan perbedaan persyaratan
dan tuntutan atas prestasi kerja.
Penghargaan yang diberikan
biasanya bersifat ekonomik, berupa pemberian status sosial atau
fasilitas-fasilitas yang karena distribusinya berbeda (sesuai dengan pemenuhan
persyaratan dan penilaian terhadap pelaksanaan tugas) membentuk struktur
sosial.
Teori Stratifikasi Sosial, terdapat tiga teori stratifikasi
sosial yaitu: teori fungsionalis, terori kelompok setatus dan teori para
sosiolog muslim.
B.
SARAN
Adanya
makalah ini diharapkan dapat membantu pembaca mengetahui tentang stratifikasi
sosial dalam masyarakat lebih rinci.
Namun, dalam pembuatan makalah ini masih banyak terdapat kesalahan, untuk itu
kami menyarankan perbaikan.
DAFTAR
PUSTAKA
Baharuddin. 2008. Sosiologi dan Pendidikan. Yogyakarta:
Genta Press.
Abdullah Idi. 2011. Sosiologi Pendidikan, Individu, Masyarakat
dan Pendidikan. Jakarta: Pt Rajagrafindo Persada.
Soerjono Soekanto. 2010 Sosiologi Suatu Pengantar. Jakarta: Pt
Rajagrafindo Persada.
Mahmud dan Ija Suntana. 2012. Antropologi Pendidikan. Bandung: Cv.
Pustaka Setia.
Komentar
Posting Komentar